Kisah Manusia Langit
Pada zaman dahuu kala, hiduplah sepasang
suami istri. Mereka berdua tinggal di tengah hutan bersama hewan-hewan yang ada
di hutan.Si suami bernama Shino, sedangkan istrinya bernama Cauri. Mereka
memelihara banyak hewan di hutan, diantaranya Kelinci, Jerapah, Gajah, Rusa,
Tikus, dan masih banyak lagi. Anehnya, hewan tersebut bisa berbicara layaknya
manusia. Mereka hidup rukun dan damai. Tak ada satupun manusia yang hidup di
hutan tersebut, kecuali mereka berdua. Sudah dua tahun merekas menikah, tapi
belum juga dikaruniai seorang anak. Sang istri sangat sedih dan merasa bersalah
karena tak bisa memberikan keturunan. Tapi, Shino terus menghibur istrinya dan
selalu berdo’a agar mereka diberikan seorang anak. Pada suatu hari, Shino
hendak pergi ke hutan untuk mencari buah dan sayuran segar. Ia tidak pergi
sendiri, tapi ditemani oleh hewan lainnya. Tinggallah Cauri sendirian di rumah.
Pada saat Cauri hendak menjemur pakaian, tiba-tiba saja ada cahaya dari langit
yang menerangi Cauri. Cahaya tersebut menyinari Cauri dan membuat matanya
menjadi silau. Cauri sangat kaget, dan lari ketakutan ke dalam rumah. Cahaya
itupun menghilang dengan sekejap mata.
Tak lama
sesudahnya, Shino sampai dirumah dengan membawa sekeranjang buah dan sayuran
segar untuk disantap hari ini. Cauri sangat senang, sehingga ia lupa dengan
kejadian yang tadi.
“Suamiku,
banyak sekali engkau mendapatkan buah dan sayuran ini,” katanya Cauri senang.
“Benar, ini
berkat si Jerapah yang membantuku memetik buah yang sangat tinggi,” jawab
Shino.
“Terima
kasih Jerapah, engkau baik sekali,” kata Cauri dengan tersenyum.
“Ah, itu
belum apa-apa dibandingkan jasa kalian yang sudah merawat dan mau menampungku,”
jawab Jerapah sedikit malu.
Mereka tertawa bersama dan makan dengan riang gembira. Esoknya,
Cauri sangat kaget sekaligus gembira. Apa yang diidamkan Cauri dan Shino
akhirnya terkabul. Sebentar lagi mereka akan mempunyai seorang anak. Mereka
sangat gembira, karena akan adanya anggota baru dalam hidup mereka. Sembilan
bulan kemudian, lahirlah seorang bayi laki-laki mungil dan sangat tampan. Anak
yang mereka nantikan akhirnya datang juga. Anehnya, warna kulit bayi tersebut
berwarna sangat terang, seperti cahaya. Oleh karena itu, mereka memberinya nama
Akarui yang artinya terang. Hidup mereka sangat damai dan tenang. Cauri, Shino
selalu merawat Akarui dengan hati-hati. Ternyata kegembiraan dan kedamaian
tidak berlangsung lama. Hutan yang mereka tempati sangatlah subur dan bagus
membangun suatu wilayah. Oleh karena itu, banyak sekali kerajaan yang ingin
mengambil daerah tersebut. Tapi, yang berhasil masuk ke wilayah tersbeut ada
tiga kerajaan. Mereka pun berebut ingin menguasai daerah tersebut. Shino dan
lainnya sangat resah dengan keberadaan tiga kerajaan tersebut. Sepertinya
mereka ingin berperang. Shino tidak mau memberikan hutan itu kepada Raja. Hal
itu membuat ketiga raja tersebut marah besar dan mengepung mereka. Raja mengancam
Shino apabila ia tidak memberikan hutan itu.
“Kalu kau
tak mau memberikan hutan ini kepadaku, maka kau, istrimu, anakmu, beserta hewan
peliharaanmu akan kubunuh,” gertak Raja.
Shino hanya
bisa diam, sebab tak mungkin ia melawan kepada Raja yang mempunyai banyak
prajurit. Perang pun terjadi. Tiga kerajaan tersebut berperang di htan tempat
Shino tinggal. Shino mencari akal, bagaimana supaya bisa terbebas dari kepungan
perang. Ia tak mau anak dan istrinya terluka. Akhirnya Shino menemukan tempat
yang aman untuk berlindung, yaitu di sebuah gunung yang sangat tinggi,
tingginya melebihi langit.
“Istriku,
aku puny aide,” kata Shino.
“Idea pa?”
Tanya Cauri sedikit ketakutan.
“Bagaimana
kalau kita mendaki gunung itu sampai ke puncak, kita akan aman di sana,” Kata
Shino sambil menunjuk ke gunung tersebut.
“Baiklah,
tak ada pilihan. Walau bagaimana pun kita harus sampai ke puncaknya. Agar kita
semua bisa selamat,” jawab Cauri.
Mereka semua
setuju. Tanpa pikir panjang, mereka langsung menuju ke gunung tersebut dengan
diam-diam. Saking sibuknya sang Raja, sehingga ia lupa kalau Shino dan lainnya
sudah pergi. Akhirnya mereka sampai di puncak gunung. Puncaknya sangat curam
dan berbahaya. Banyak sekali awan berkumpul di puncak gunung, sehingga mereka
tak bisa menyaksikan perperangan. Sewaktu si Kelinci ingin berpindah tempat, ia
terjatuh di atas awan yang lembut. Anehnya awan tersebut tidak lunak, melainkan
keras dan bisa berdiri di sana. Shino dan lainnya sangat kaget, ini aneh bin
ajaib. Awan tempat kelinci berdiri sama seperti tanah. Si Kelinci langsung
memanggil Shino.
“Hai, kawan.
Disini awannya sangat keras, aku bisa berdiri di sini,” kata si Kelinci riang.
Shino dan
lainnya langsung melompat, meski awalnya merasa canggung, namun mereka merasa
senang.
Ketiga Raja
baru sadar kalau Shino dan keluarganya yang lain sudah pergi dari tadi. Betapa
marahnya ketiga Raja tersebut. Ketiga Raja menyuruh prajurit mereka untuk
mencari Shino dan keluarganya. Setelah mencari beberapa jam, tak ada hasil.
Sewaktu Raja melihat ke awan, ia melihat Shino dan lainnya di sana. Raja geram
dan menyuruh prajuritnya untuk memanahi mereka. Shino, Cauri, Akauri, dan para
hewan langsung menunduk, karena mereka takut kalau terkena panah. Shino
melindungi anak dan istrinya, agar mereka tak terluka. Akarui menangis karena
terkejut. Shino tak bisa berbuat apa-apa.
“Tuhan,
tolonglah kami,” kata Shino dengan bergelimang air mata. Shino terus menangis
dan menangis. Akhirnya air mata mereka berkumpul di awan tempat mereka
berpijak. Awan menjadi hitam, dan turunlah hujan yang sangat lebat sekali.
Petir-petir berhamburan dengan liarnya, air bah dating dan menghanyutkan hutan
tempat Raja berdiri. Ketiga Raja beserta prajuritnya hanyut terbawa air bah.
Setelah hujan reda, Shino melihat Bumi seperti padang pasir yang kering dan tak
ada satu pun pohon yang berdiri. Semuanya telah hanyut terbawa air Bah. Shino
dan lainnya ingin sekali turun dan kembali ke Bumi, tapi mereka tak tahu
bagaimana cara turun. Akhirnya mereka memutuskan untuk tetap tinggal di awan
yang sudah menolong mereka. Ajaibnya, awan yang mereka tempati ditumbuhi banyak
pepohonan, lama kelaman berubah seperti Bumi. Sayangnya mereka melayang di
langit. Shino membangun rumah yang cukup besar. Rumah yang mereka buta berubah
menjadi istana yang sangat megah. Akarui yang dulunya masih bayi, lama kelamaan
berubah menjadi seorang pangeran yang sangat tampan. Akarui membangun sebuah
kerajaan yang diberi nama “Kerajaan Langit.” Akhirnya hidup mereka menjadi
tentram dan damai. Mereka yang dulunya manusia Bumi, sekarang menjadi manusia
langit.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar